Foto-foto Mengharukan Dibalik Kisah dan Momen Wisuda dari Berbagai Negara

loading...

PulangKerja.com – “Salah satu kebahagiaan terbesar bagi orang tua adalah saat melihatmu wisuda, berdiri diatas podium menggunakan Toga sambil tersenyum ke arah mereka. Karena disaat itulah kebanggaan sebagai orang tua dapat terpancar dengan sangat indahnya”

“Maka beruntunglah bagi siapapun yang masih diberikan kesempatan untuk itu. Oleh karenanya janganlah kau sia-siakan perjuangan mereka yang telah mengantarmu kesana. Berikanlah yang tebaik untuk meraihnya, karena momen tersebut merupakan momen terindah yang tak akan kamu lupakan seumur hidupmu”. (Walt Disney)

walt disney

 

THAILAND

THAILAND 1

Foto ini diambil pada tahun 2013 yang lalu. Sosok ayah dalam foto ini adalah seorang buruh tani miskin yang ditinggal mati istrinya sesaat setelah melahirkan anak laki-lakinya tersebut. Sang ayah menjual seluruh harta benda yang dimilikinya dan bekerja keras setiap hari demi membiayai sekolah anaknya setinggi mungkin. Kegigihan dan pengorbanan sang ayah dijawab dengan sempurna oleh sang anak tercinta ketika sang anak mendapat beasiswa kuliah dan berhasil lulus cum laude di Universitas Ratchpatr di Chiang Rai (Thailand bagian utara).

THAILAND 2

Kisah ini menjadi luar biasa karena keluarga kecil tersebut berasal dari desa di provinsi Nan, Thailand, dimana penduduk desa tersebut mayoritas hidup dalam kemiskinan, dan merupakan suku terbelakang yang warganya kebanyakan tidak sempat mengenyam bangku sekolah. Meskipun demikian, sang ayah berhasil berjuang untuk memberikan anaknya kesempatan agar memiliki masa depan yang lebih baik.

Saat di wisuda, walaupun tanpa kehadiran sang ayah, sang anak berkata bahwa ayahnya merupakan kebanggaan terbesar dalam hidupnya.

Oh ya, mungkin ada yang bertanya kenapa sang ayah gak dateng ke acara wisuda anaknya. Well, penghasilan sang ayah dari hasil panen hanya diberi upah 18 bath, atau sekitar Rp 2.590 rupiah. Dengan penghasilan segitu, sangat tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Untuk makan saja, sang ayah hanya mengandalkan pemberian hasil panen yang diterimanya seminggu sekali.

Itulah dia kenapa saat wisuda, sang ayah tidak bisa menghadiri acara wisuda putra kesayangannya karena tidak ada ongkos untuk keluar kota. Sang anak pun harus rela melewatkan moment membahagiakan itu tanpa kehadiran seorang ayah. Setelah acara wisuda usai, sang anak pun segera menuju kampung halaman untuk berjumpa dengan sang ayah tercinta yang sudah menunggunya dengan penuh haru dan kebanggaan.

 

MALAYSIA

MALAYSIA

Foto ini pertama kali diunggah ke twitter oleh netizen asal Malaysia dengan akun @barteria pada tanggal 1 November 2015 lalu, dan tak membutuhkan waktu lama untuk menjadi viral di internet.

Dalam foto tersebut terlihat seorang wisudawan asal Malaysia yang alih-alih menggunakan latar belakang gedung universitas atau foto studio, dia tidak segan dan malu mengajak ayahnya yang bekerja sebagai buruh kasar di perkebunan kelapa sawit untuk bersama merayakan hari kelulusannya.

loading...

Aksi wisudawan tersebut banyak menuai pujian dari para netizen yang mengatakan bahwa anak semacam itulah yang membuat bangga orangtuanya. Ia selalu menghargai jerih payah orangtua dalam membesarkannya hingga berhasil menjadi sarjana.

 

AMERIKA SERIKAT

MAMARIKA

Demi membahagiakan sang ibu, seorang mahasiswi Glen Burnie, Maryland, Amerika Serikat memindahkan acara wisudanya ke rumah. Tak hanya itu, jadwal wisudanya dipercepat 1 bulan. Sebelum ajal menjemput sang ibu. Menurut Maryland Gazette, sang ibu didiagnosa menderita kanker kolorektal 4 tahun lalu. Namun setelah 1 tahun sembuh, kankernya kembali menyerangnya. Kondisinya pun semakin parah.

Seperti dikutip dari news.co.au, Senin (12/5/2014), keluarga mahasiswi bernama Megan Sugg pun menghubungi pihak universitas, setelah mereka menyadari jika kondisi sang ibu terlalu parah untuk bisa pergi ke acara wisuda putrinya Megan pada bulan Juni.

Setelah meminta izin dari universitas, akhirnya acara wisudanya digelar di samping tempat tidur sang ibu, Darlene Sugg pada 8 Mei 2014. Benar saja, 2 hari setelahnya pada 10 Mei 2014, ibunya meninggal dunia.

“Walaupun saat itu adalah waktu yang begitu sulit untukku, tapi pada saat yang sama aku merasa senang karena ibuku bisa melihatku lulus dan menggunakan toga seperti harapan beliau semasa hidupnya”, kata Megan yang difoto berbalut jubah kelulusan dan gaun sambil menangis.

 

INDONESIA

INDONESIA 1

Dikutip dari detik.com, kisah Raeni, 21, putri tukang becak yang menjadi wisudawan terbaik Universitas Negeri Semarang (Unnes) tahun 2014 lalu, mendapat perhatian luas dari masyarakat dan media massa nasional. Gadis kelahiran Kendal, 13 Januari 1993, itu berhasil menyelesaikan studinya di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Unnes dalam 7 semester, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96. Nyaris sempurna.

Sebagai tukang becak, penghasilan sang ayah, Mugiyono bisa disebut tak menentu. Berkisar Rp10 ribu – Rp 50 ribu. Karena itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam di sebuah sekolah dengan gaji Rp450 ribu per bulan.

Pekerjaan mengayuh becak dilakoni Mugiyono setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis. Ia meminta berhenti jadi karyawan karena menginginkan uang pesangon supaya bisa membiayai anaknya masuk ke Universitas Negeri Semarang, agar bisa menjadi guru sesuai dengan cita-citanya.

Raeni membayar pengorbanan ayahnya dengan giat belajar, sehingga pada semester I ia meraih indeks prestasi 4,00. Sempurna. Lantaran indeks prestasinya itu, Raeni langsung menerima beasiswa Bidikmisi dari kampusnya pada Agustus 2011.

INDONESIA 2

Diatas adalah sebuah foto yang memotret betapa bangganya seorang wisudawan ber-IPK 3,96 diantar ayahnya yang tukang becak menghadiri wisuda di Univeritas Negeri Semarang (UNNES). Betapa perjuangan seorang ayah yang “cuma” tukang becak dibalas indah oleh anaknya. Dengan rasa tidak sungkan diantar langsung dengan becak ayahnya, si putri diantar menuju tempatnya wisuda. Dan dengan kejujuran dan keihlasan, sang ayah dengan raut wajah bangga mengantar putrinya dengan becak. Betapa luhur budi bakti si putri pada ayahnya. Dan betapa bangga si ayah pada putri yang sudah meluhurkan keluarga dengan prestasinya. Manteb banget mbak Raeni emang.

(sumber)

loading...
loading...

Add Comment