Mengenal Jemparingan, Budaya Panahan Jawa Kuno yang Terus Dilestarikan

loading...

PulangKerja.com – Jemparingan adalah seni memanah tradisional khas gaya Mataram (nama daerah di sebagian pulau Jawa dan Bali yang di ambil dari wilayah kerjaan Mataram). Seni memanah ini pada beberapa tahun belakangan mulai marak di kalangan masyarakat Yogyakarta sejalan dengan kesadaran masyarakatnya untuk melestarikan budaya warisan leluhur. Seni memanah tradisional ini sangat unik karena masih mempertahankan tata cara dan budaya tradisional dalam peraturannya.
Jemparingan dilakukan dalam keadaan posisi duduk dan para pemanah memakai busana adat. Sasaran juga bukanlah target lingkaran seperti umumnya olahraga panahan, tetapi sebuah bandul putih yang diikat dengan tali yang disebut denganbedor/wong-wongan/bandulan berbentuk silinder dengan panjang sekitar 30-33 cm dengan diameter 3,0-3,5 cm.

Jemparingan 1 Jemparingan 2

Jemparingan gaya Mataraman

Jemparingan gaya Mataraman

Sejarah Jemparingan
Jemparing dalam bahasa Jawa berarti panah. Olahraga yang juga dikenal dengan Panahan Tradisional Mataraman ini pada mulanya merupakan kegiatan latihan perang para prajurit kerajaan. Namun, lama kelamaan kegiatan ini menjadi olah raga tradisional.
Mengenai kriteria peserta lomba Jemparingan, saat ini tidak hanya terbatas untuk warga keraton dan masyarakat Yogya saja tetapi sudah meluas hingga ke suku maupun bangsa lain. Jemparingan ini terdiri dari 20 rambahan (putaran). Dalam setiap rambahan, setiap peserta mendapatkan kesempatan untuk meluncurkan lima anak panah dengan posisi duduk bersila berderet untuk membidik target sasaran yang jaraknya sekitar 30 meter. Jemparingan ini mempunyai peraturan perhitungan nilai sasaran. Jika terkena sasaran berwarna merah atau sering disebut ndas abang (kepala sasaran yang berwarna merah) akan mendapat nilai 3 dan nilai 1 untuk badan sasaran yang berwarna putih. Selain itu, di perlombaan Jemparingan ini terdapat 20 rambahan (ronde), disetiap ronde para peserta hanya diperbolehkan melontarkan 4 anak panah
Jika dilihat sekilas, Jemparingan ini nampaknya hanya membidik sasaran yang disebut dengan bedor/wong-wongan/bandulanmenggunakan busur dan anak panah. Tetapi keunikannya terletak pada para pelaku pemanah yang mengenakan pakaian adat surjan atau peranakan, memakai blangkon, dan juga jarit. Sedangkan untuk wanita, pakaian yang digunakan berupa jarit, kebaya. Keunikan lainnya adalah posisi para pemanah yang harus duduk bersila.
Jemparingan 3 Jemparingan 4 Jemparingan 5 Jemparingan 6 Jemparingan 7 Jemparingan 8 Jemparingan 9

loading...
peserta jemparingan pria

peserta jemparingan pria

peserta jemparingan wanita

peserta jemparingan wanita

Jemparingan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan daya konsentrasi.
Filosofi yang bisa diambil dari kegiatan ini adalah :
1) Peserta yang memenangkan lomba adalah peserta yang dapat mengasah rasa dan mampu membangun hubungan dengan sesuatu yang jaraknya jauh.
2) Duduk Bersila melambangkan Prajurit Jawa yang tidak akan menyerang sebelum diserang terlebih dahulu, dalam istilah jawa ora arep ndisiki nak ora didisiki.
3) Anak Panah yang sudah dilepaskan harus diambil sendiri, melambangkan watak jiwa Ksatria.

(sumber)

loading...
loading...

Add Comment