Terima Kasih Pak Raden, Sudah Bikin Masa Kecil Kita Bahagia

loading...

PulangKerja.com – Drs. Suyadi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Raden (lahir di Puger, Jember, Jawa Timur, 28 November 1932 – meninggal di Jakarta, 30 Oktober 2015 pada umur 82 tahun) , merupakan salah satu seniman Indonesia yang sangat dikenal dari karyanya yaitu Si Unyil. Dari karyanya itulah Pak Raden turut membantu membangun bangsa dengan menanamkan moral-moral baik untuk anak-anak bangsa. Namun tahu kah anda, fakta tak terduga dari sang seniman legendaris ini?

 

Pencipta Si Unyil sekaligus Tokoh Antagonisnya

Si Unyil merupakan Seri televisi Indonesia yang diproduksi oleh PPFN. Tayang setiap minggu pagi di TVRI mulai dari 5 April 1981-1993. Bercerita tentang seorang anak SD (yang nantinya akhirnya juga SMP) bernama Unyil dan petualangannya bersama teman-temannya. Dalam ceritanya Pak Raden dikenal sebagai tokoh antagonis, karena sering memarihi atau menceramahi Unyil ketika ia berbuat salah.

Pencipta Si Unyil

Tokoh yang terkenal dengan Kumis dan Alis Tebal, melengkung keatas lengkap dengan blangkon dan beskapnya ini terinspirasi dari lingkungannya (di kawasan Petamburan), dimana tiap hari kedengaran ada anak menangis, anjing menggonggong, kucing bertengkar, ada anak-anak lelaki berkelahi. Dari sini lah ilham dalam penciptaan karakter lain (seperti Pak Ogah dan Bu Bariah) serta cerita di balik film boneka tersebut.

pak raden Pencipta Si Unyil

Walaupun serial tersebut akhirnya tidak berlanjut (setelah berjalan sepuluh tahun). Namun banyak orang tidak akan dapat melupakan berbagai unsur seri ini, mulai dari lagu temanya yang dimulai dengan kata-kata “Hom-pim-pah alaiyum gambreng!” sampai tokoh-tokoh seperti Pak Raden dan Pak Ogah dan kalimat seperti “Cepek dulu dong!”

 

Lebih dari 60 tahun Berkarya Membangun Negeri

Diawali masa kanak-kanaknya, diawal tahun 40-an, yang dihabiskan dengan menggambar di halaman rumahnya (dengan menggunakan arang atau kapur), Sang seniman seperti sudah menemukan dunianya.

tokoh pak raden

“Tak pelak,” demikian kesaksian Prasodjo Chusnato, manajernya, seluruh tembok dan antai rumahnya adalah media gambarnya. Seperti mudah ditebak, kegemarannya pada menggambar, akhirnya mengantar dirinya kuliah di Jurusan Seni rupa di Institut Teknologi Bandung, ITB (1952-1960). Di sinilah, gabungan antara bakat dan hasrat, seniman yang hobinya menyanyi ini makin terlibat secara mendalam di dunia seni.

“Tanpa cinta, tidak akan terjadi apa-apa,” Salah satu Quote dari Beliau.
Semasa berstatus mahasiswa, demikian disebutkan dalam situs resmi miliknya, Suyadi sudah menghasilkan sejumlah karya seni — berupa buku cerita anak bergambar (sebagai ilustrator dan penulis cerita) dan film pendek animasi.

Usai menyelesaikan studi di Fakultas Seni Rupa ITB, Suyadi meneruskan belajar animasi di Perancis (1961-1965).
Semasa muda, ia dikenal sebagai seorang yang kreatif. Beberapa buku cerita anak bergambar seperti “Petruk Jadi Raja dan film pendek animasi pernah ia hasilkan selama ia menjadi mahasiswa.

pameran tunggal pak raden

Dan pada tahun 2013 lalu, Banyak karya sketsanya di .tampilkan di Bentara Budaya Jakarta, dalam Pameran 60 tahun Pak Raden Berkarya dengan tema Noir Et Blanc (hitam & Putih).

 

Ahli Mendongeng sambil Menggambar

Pak Raden juga dikenal sebagai pendongeng yang handal. Ia mampu mendongeng sambil menggambar. Keahliannya tersebut sangatlah langka di Indonesia, bahkan di dunia. Pada 3 Juni 2012 lalu, beliau mendapatkan penghargaan Ganesa Widya Jasa Utama di Institut Teknologi Bandung, penghargaan yang diberikan kepada orang yang aktif dalam kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, baik nasional maupun internasional.

pak raden

loading...

Selain terlibat dalam serial Si Unyil, seniman multi talenta ini juga pernah membuat film animasi yang berjuful Timun Mas pada tahun 1975 dan selesai pada tahun 1984. Film tersebut menjadi salah satu maha karya dari kakek berusia 80 tahun ini. FYI ingat buku pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar, dengan idiom “Ini Budi, ini ibu Budi…?” Itu adalah karya Pak Raden juga. Dan baru pada bulan april 2015 lalu.

pak raden masa tua

Beliau mendapatkan pengharggan special (Charity Silet Award) dri Silet Award yang berupa rumah.

 

 

Baru 1 Tahun Merasakan Hasil dari Karyanya

Dimasa tuanya, Pak Raden tak bisa menikmati buah dari hasil karyanya. Ia tak bisa mendapatkan royalti dari serial boneka Si Unyil. Karena hak cipta dari boneka Si Unyil sudah diserahkan kepada Perum Produksi Film Negara (PFN) pada tahun 1995. Membahas sedikit tentang hal ini, menurut Pak Raden, hak cipta Si Unyil telah diserahkan kepada PFN pada tahun 1995 untuk jangka waktu 5 tahun sampai tahun 2000.

pak raden si unyil

Baru pada Selasa, 15 April 2014 lalu,Pria yang sudah memasuki usia 81 tahun itu melakukan kesepakatan dengan Perusahaan Produksi Film Negara (PFN). Kesepakatan itu dilakukan Pak Raden melalui kuasa hukumnya, Dwiyanto Prihartono. Menurut Dwi, Pak Raden memberikan kepercayaan PFN untuk mengelola ekonomi karakter serial Si Unyil selama sepuluh tahun.

si unyil

Selain itu, Si Unyil juga diberlakukan kontrak progresif, artinya karakter Unyil tidak hanya disebut sebagai boneka, tapi juga meliputi lukisan kartun tiga dimensi, boneka, dan mini operet.

 

Hidup dalam Perjuangan

Sebelum mendapatkan hasil royalti dari karyanya Si Unyil. Pak Raden Pak Raden tinggal di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat dalam rumah berukuran 100 meter, dengan tiga kamar, satu kamar tamu dan sebuah dapur. Rumah tersebut tampak kusam dengan atap yang bocor dan rusak tak terawat.

pak raden 1 pak raden 2 pak raden 3

Pak Raden tidak menikah dan tidak punya anak. Di rumahnya ia bersama dua orang pengasuhnya Pak Madun dan Pak Nanang. Dan selama itu juga beliau hanya mengandalkan pendapatannya dari melukis dan membuat pertunjukkan boneka serta mengamen apa adanya.

pak raden 4

Bahkan demi pengobatan kakinya, saat Jokowi baru menjadi Gubernur Jakarta (tahun 2013 lalu), Pak Raden berencana menjual lukisannya yang berjudul “Perang Kembang” kepada Jokowi. Walaupun sempat ditawari oleh Ahok namun beliau tetap ingin Jokowi yang membelinya, walaupun pada akhirnya Pak Prabowo yang beli.  (sumber)

loading...
loading...

Add Comment